Haruskah aku mati karena rasaku
Hatiku yang tak jemu memanggil namamu
Aku tenggelam dalam sedih yang tak terbatas
Jauh di lubuk kolam anganku
Nadaku menjerit rindu
Senin, 11 Mei 2015
Menjerit rindu
Kamis, 07 Mei 2015
Sepotong kisah
"Aku boleh bilang sesuatu, nggak? Tetapi jangan marah, ya?"
"Iya, bilang aja. Apa emang?"
"Kalau menurut aku kamu lebih baik cari yang baru, buat apa berjuang sendiri?"
Aku menatap nanar, ada kaget tercampur sadar
"Emang iya, kalau cinta harus diperjuangkan. Tapi, kalau kamu saja yang berjuang, dianya menjauh dan seakan tidak peduli buat apa? Tidak akan pernah punya titik temu,"
Aku tercekat, menelan ludah dan pahit
"Aku sarankan lebih baik memulai yang baru"
"Nggak ada yang nggak bisa, Za, Kamu saja yang membuat mindset begitu,Bukan kah kamu yang selalu bilang, pikiran selalu menggerakkan raga kita?"
"Kali ini lain, Ri. Kasusnya beda"
Risa berjalan ke luar, meninggalkan aku yang termenung pilu di kamar kosku yang mendadak dingin dan membuatku membeku. Aku selalu dingin, agaknya rindu seperti tanah tertimbun salju dan harus menuntaskannya dengan sinar mentari.
Langganan:
Postingan (Atom)