Selasa, 06 Juli 2021

Tulisan Singkat untuk Hari-hari yang Terasa Panjang



 Mei ke Juli adalah waktu yang singkat namun telah mengubah banyak hal dalam hidup saya. Dimulai dari awal Mei, saya meninggalkan pekerjaan sebagai jurnalis dan penulis konten di semuah media. Saya berhenti di saat saya sangat menyenangi topik yang saya tulis. Apa yang menandakan dan mencirikan Sonia? Jawabannya adalah tulisan-tulisan itu. Saya pergi padahal telah memiliki lingkungan kerja yang nyaman. Melepaskan pekerjaan itu juga berarti melepakan kesempatan kemewahan yang ada bersamanya. Benar kata orang aman dan nyaman adalah dua hal yang membahayakan.

Saya mengambil jalan lain pada pertengahan Mei. Memutuskan menjadi penulis skrip video di kota yang asing dan kultur kerja yang baru. Banyak orang yang mengatakan saya beruntung atau meloncat dengan tepat. Tapi pikiran itu jauh dari saya. Hari-hari pertama berlalu dengan gamang, "Apakah ini langkah yang terburu-buru?" atau "Apakah jalan ini adalah yang paling tepat?". Pertanyaan itu memenuhi kepala saya setiap termenung dan membuat murung. Setiap hari terbangun dengan perasaan yang asing dan pergi tidur dengan kepala yang pening.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan makin kalut. Gundah kian bertambah. Akibatnya saya sering menulis status WhatsApp yang mendayu-dayu nyaris setiap hari, seolah jadi orang yang paling frustasi. Pertanyaan di kepala makin muluk-muluk, "Tulisan yang saya tulis apakah akan mengubah saya?" begitu kira-kira. Anggapan seputar tulisan komersil akan mengikis nilai-nilai dalam diri. Mungkin ini terdengar berlebihan.

Memasuki tahap penerimaan, saya akhirnya bisa berpikir jernih. Tulisan-tulisan yang saya tulis tidak akan mengurangi cara pandang dan nilai-nilai yang ada. Apa pun tulisannya, berita, feature, konten, copy, skenario, atau status galau sekalipun akan memperkaya dan meningkat kemampuan saya. Saya beruntung proses penerimaan ini berjalan baik, berkat banyak telinga yang siap mendengar keluh dan kesah. Untuk kalian, sejuta-juta terima kasih telah ada. 


Kamis, 28 Mei 2020

Saya Tidak Sakit dan Kamu Tidak Perlu Bertanya Sok Empati Begitu

Saya menghabiskan sebagian waktu remaja saya dengan becermin. Bukan karena narsis atau centil. Saya sibuk mencari-cari jawaban dari tanya orang-orang mengenai saya sakit apa. Setiap kali saya bertemu orang baru, saya selalu mendapat pertanyaan "Sedang sakit ya?"

Atau ditegur orang tidak dikenal ketika membeli sebotol minuman di warung, "Sakit ya, keliatan lesu"

Saya sering sekali mendapatkan komentar ini. Sesering orang bertanya kenapa nama saya cuma satu kata. Saya berhenti menghitungnya. Saat saya sadar, saya tidak akan mampu melakukannya.

Dalam cermin saya menemukan mata saya yang sayu. Hmm mungkin ini penyebab orang mengatakan saya sakit, pandangan sayu dan mata berkantung. Tapi kemudian saya menemukan teman saya yang juga memiliki mata sayu. Tapi tidak membuat saya berpikir dia sedang sakit.

Setelah sangsi dengan bentuk mata, saya kemudian menduga cara berjalan saya adalah penyebab komentar berdebah ini. Jalan saya lambat, gerak apalagi. Lagi-lagi saya menemukan orang yang sama lambatnya dengan saya, namun seperti di awal saya tidak punya cukup alasan untuk menduga dia sedang sakit.

Bingung? Dulu saya juga. Saya kemudian berpikir kebiasaan melamun membuat saya disangka sakit. Saya mudah terlena, sedang membuka tutup botol-skip, masuk ke ruangan-skip, membuka laptop-skip beberapa detik. Akan menulis asal muasaaal semuaaa innn-nah tuh kan skip lagi. Tapi tentu saja kita sepakat orang melamun tanda ada yang dipikirkan bukan karena sakit.

Lalu kemudian saya yakin warna kulit saya adalah  penyebab utama. Kebetulan kulit saya putih, putih identik dengan pucat. Wajah orang sakit biasanya pucat, nah ini masuk akal.

Mungkin ini terdengar berdalih, tapi saya sering mendapati wajah saya memerah entah karena panas atau jerawat. Jika ada warna merah tentu tidak pucat kan? Nah ya ini.

Saya putus asa. Saya menyerah, jawaban ini tidak mungkin saya temukan. Lalu saya meminta Ibu untuk membelikan tablet tambah darah, karena iklan televisi. Dalam iklan, dikatakan lemah dan lesu adalah tanda sedang kekurangan zat besi. Dalam iklan juga penderita kemudian sangat bergairah dan gesit setelah meminum tablet ini.

Namun ibu saya tidak mau membelikan, sederhana saja mana mungkin anak subur dengan nafsu makan berlebih mengalami kekurangan zat besi.

Saya akhirnya diam-diam membeli tablet itu. Saya minum beberapa kali, hingga saya tidak sanggup membeli ulang pun pertanyaan itu tetap ada.

Pada akhirnya saya memilih untuk berhenti mencari tahu. Mengerutkan kening setiap kali mendapat komentar itu. Tidak menjawab adalah isyarat bahwa saya sehat-sehat saja. Dan saya tidak nyaman mendengar itu.


Saya kerap ketus kepada orang acak yang menanyakan ini. Karena saya pikir dia menyakiti saya dan tidak ada salahnya saya ketus pada mereka.

Lalu sikap ini juga ternyata menyakiti diri saya sendiri. Saya mudah sekali marah dan kehilangan minat jika mendapat komentar ini. Tentu ini tidak baik dalam kehidupan sosial saya. Tidak ada cara selain memaksakan menerima keadaan. Percaya ciptaan Tuhan tidak ada yang sia-sia.

Penerimaan ini kemudian menguntungkan saya. Ketika muak sekali mendengar teriakan senior saat ospek. Mungkin kalian pernah mendegar kalimat seperti ini, "Capek Kalian, Haa? Kami jauh lebih capek"

Saya memakai kesempatan ini untuk istirahat di ruang medis dengan cara mengangguk ketika ada panitia yang berkata, "Sakit ya?". Culas.


Belakangan saya sadari beberapa alasan yang saya temukan di masa remaja tersebut adalah kesatupaduan yang utuh dan saling terkait. Bisa jadi. Atau bisa saja saya salah, ada sebab lain yang belum saya temukan. Tapi bukan itu yang penting. Sekarang saya dapat memahami kenapa orang bertanya, "Kamu sakit ya?"

Karena tidak mungkin di pertemuan pertama orang akan bertanya, "Apakah kamu menduga bahwa di tahun 2020 dunia mengalami krisis karena Virus Corona?"

Tidak mungkin.

Tidak ada yang menduga bahwa ada wabah yang mematikan yang mengurung semua orang di rumah. Hingga kemudian punya waktu untuk menuliskan ini.



Sabtu, 26 Oktober 2019

Palembang dalam 3 Hari

Mama dan Mahira mengantarku ke Bandara, Aku akan terbang  ke Palembang untuk WikiLatih. Ini bukan kali pertama aku terbang sendiri.  Tapi kali ini rasanya deg-deg-an dan sedikit melow akan meninggalkan rumah, padahal aku pergi cuma empat hari. Hadeew, belum juga merantau. Kabut asap di langit masih pekat. Syukur, jadwal penerbanganku tepat waktu.

Jelang naik pesawat, Rina mengabari kalau kereta yang membawanya dari Lubuk Linggau beberapa menit lagi akan sampai di Palembang.Perasaanku masih saja tidak karuan ketika pesawat sudah take off. Untuk menekan perasaan gundah aku memilih tidur selama penerbangan.

Sampai di Bandara, aku menuju staiun LRT, lewat video call Rina menuntunku. Kami berjanji bertemu di Stasiun Polresta Palembang, stasiun yang menurut Rina lebih dekat dengan penginapan kami.

Perjalanan

Minggu, 20 Desember 2015

Padi

Itu karena padi tak punya kesempatan untuk tumbuh tinggi!”



Apa yang istimewa dari padi selain filosofinya, Semakin merunduk semakin berisi itu?
Apa tempat istimewa padi selain bahan makanan pokok di Indonesia?

                Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala saya ketika tidak sengaja celetukkan seseorang “Bagaimana dengan filosofi padi” Saya diam saja waktu itu. Berusaha mencari ide lain, selain padi. Saya kurang setuju dengan ilmu padi yang digadang-gadangkan itu: Semakin berisi semakin merunduk itu. Semakin saya melarikan pikiran dari padi, semakin menari dan berputarlah ia dikepala saya. Penasaran, saya dan seorang teman langsung ke tempat di mana kita bisa menemukan padi.
                Saya menemukan padi di tengah sawah yang terbentang minioritas di tengah-tengah dominannya bangunan dan gedung. Saya perhatikan lekat-lekat padi dibasahi oleh air hujan itu, hujan gerimis kala itu. Tidak ada yang istimewa selain warna hijau yang menguning itu.  Rumpun-rumpun padi itu masih sama sewaktu saya pertama kali melihat padi, tidak ada yang berubah. Bentuk sawah dan pengolahannya masih juga sama. Hanya daerahnya lah yang menjadikan beda. Ada padi yang tubuh di daerah pegunungan, pesisir, ada padi yang ditumbuh di tanah berair, dan ada padi yang tumbuh di lading.
                Lalu apa yang istimewa dari padi. Ilmu Padi (Semakin berisi dan semakin merunduk) itu juga banyak dipatahkan.  Ada yang mengatakan bahwa jika memakai ilmu padi, seseorang yang “berisi” itu hanya berilmu sendiri dan tidak mau mengambil kesempatan untuk memberikan ilmunya kepada oang lain, karena tidak mau dicap sombong atau congkak. Ada juga yang meragukan: “Itu karena padi tak punya kesempatan untuk tumbuh tinggi!”
                Filosofi padi semakin berisi semakin merunduk saya abaika, itu tidak menrik inat saya. Saya masih di tepi sawah bersama teman saya. Kami mencermati

Kamis, 03 Desember 2015

Rerumpun Putri Malu

Cinta, oh sayang
duka, oh kita

Pada rerempun putri malu,

aku ingin menitipkan selembar kasih dengan sepucuk sirih
Sebutir rindu dengan sebilah pinang merah

bawa segenggam salamku, malu

kamu, oh duri

Edisi Marahan

Suatu Sore di lantai Tiga Perpus

Aden: Bosen nih, browsing apa lagi ya?
PC: game? facebook bla bla bla
Aden: ah males, nggak ada yang bagus juga
PC: Ngeblog deh
Aden: Oh iyaa, ide bagus. Ke blog yuk gel

Google:  Gue lupa naruh blog di bagian mana, pasti udah berbdebu tuh
Aden: Udah lama ya gue ga liat si blog
Google: abis lu pesbukan mulu siiih
Aden: ah pan bentar, liat time line doang. Lu cari blog gih
Google: gue lupa tarok di mana,
Aden: di lemari, di rak blogger kalii
Google; oh iya ke blogger ya

suuuuuuuuuurrrrrrt

Blogger: ah siapa sih ganggu aja, orang gua lagi tidur juga
Aden: Maap, yampun siblog udah drum minyak ajah tu badan lu. Lu tidur mulu sihh
Blogger: gue nggak berasa kenal elu deh kayaknya, pernah ketemu di mana?
Aden: Sengak bener nih anak, yakin lu gak kenal gua?
Blogger: Ya gak kenal, siapa sih ganggu aja. sana, gua mau tidur
Aden: lu kok gitu sama gua? Maaf gua sekarang sering sibuk nggak jelas. Sering anggurin lu, Maaf sebenarnya guaa sayang ama lu.
Blogger: GUA BILANG SANA


November alpa, hai bloooooooogku

Kamis, 15 Oktober 2015

Aku, sendiriku, dan pikiranku

Pertama aku menutup koran, lalu membuka novel Persidennya Wisran Hadi membaca paragraf pertama hingga tidak tahu kenapa bosan menyergap kepalaku, aku menutup novel itu. Kemudian aku merasa pusing, kepalaku berdenyut, perut kumelilit. Aku mual dan berkunang-kunang. Ini terjadi ketika aku sendiri di tempat ramai, baru baru ini mungkin aku mengidap phobia aneh.

Aku tengah duduk sendiri di perpustakaan fakultas. Tidak sepenuhnya sendiri, ada beberapa orang di perpustakaan. Tetapi, tidak ada yang aku kenal.

Aku menelungkupkan kepala diatas novel dan buku catatanku, seraya memuluk sipemeluk sepiku itu. Ada apa denganku, kenapa aku merasa sepi sekali? Kenapa aku pusing, takut, dan panik seperti ini? Apa yang terjadi?
Dulu, bahkan jauh sebelum kuliah atau saat semester pertama. Aku terbiasa sendiri, kemana-mana sendiri. Bukan masalah. Makan di kedai sendiripun, aku kalem saja. Namun, sekarang aku seperti tidak punya nyali berada seorang diri di tengah manusia yang tidak aku kenal.

Aku bangkit dari dudukku, kemudian mengantongi barang-barangku ke dalam tas. Aku ingin ke perpustakaan pusat, hendak mencari seseorang yang aku kenal. Akan ku suruh ia merampok sepiku, akan kuserahkan sunyiku padanya.

Ketika aku melangkah keluar dari perpustakaan, jawaban dari pertanyaan tadi muncul di kepalaku.
Ya. Aku tahu.
Aku seperti ini sejak aku terbiasa bersama, sejak terbiasa punya teman. Apalagi sejak ada Nite dan Rina yang selalu bersedia diajak ke mana saja.

Dari perpustakaan fib(fakultasku) menuju perpustakaan pusat adalah perjalanan panjang. Rutenya seperti ini FIB-Gedung E-Gedung F-Perpustakaan  pusat. Ini dilewati dengan jalan kaki cukup melelahkan, apalagi jika plengak plengok sendiri.

Aku berjalan di koridor-koridor gedung. Dulu, sewaktu SMA aku paling benci berjalan di koridor, selain karena gelap dan sempit, koridor juga dipenuhi siswa yang tengah menunggu guru. Aku lebih suka berjalan di lapangan rumput. Tidak ada halangan, tidak suara cekikan anak perempuan. Aku merasa di alam terbuka (Sekolahku dulu banyak tumbuh pohon besar. Namun, sewaktu aku mau tamat banyak yang ditebang, ada juga yang tumbang. Aku juga tidak tahu sekarang sudah ditanami lagi. Kalaupun iya, pasti belum serindang dulu)

Aku juga tidak tahu kenapa sekarang aku lebih suka berjalan di koridor. Entah karena rumputnya indah dan kampusku terkenal hijau, aku jadi takut merusak. Aku pun tidak tahu. Tulisan di larang menginjak rumput juga tidak ada, seandainya ada pasti aku akan lebih gencar menginjaknya. Aku paling suka melakukan sesuatu yang dilarang secara berlebihan seperti itu, seperti dilarang buang sampah, menjaga kebersihan yang kerap di tempel di berbagai tempat. Aku paling suka mengusili hal yang seperti ini. Apa karena tidak ada tulisan peringatan, aku jadi patuh. Aku juga ragu dengan diriku, pasti ada sesuatu yang dahsyat terjadi jika aku sampai patuh. Juga tidak mungkin karena aku takut sepatuku kotor, aku terlalu cuek untuk urusan penampilan. Jadi, kesimpulannya yang membuat aku menjadi patuh. Aku ini terlahir usil dan suka mengusili peraturan.

Aku analogikan koridor dan lapangan adalah cara berpikir. Cara berjalan di koridor atau lapangan adalah pola pikir. Berjalan di koridor sama dengan berpikir menurut pada alur yang disepakati, jika ada belokan maka berbelok lah jalan kita. Jika ada bundaran maka memutar lah kita, jika lurus ya berjalan lah ke depan atau boleh memilih ke belakang. Pola pikir yang di koridor adalah pola pikir yang di tata, di atur dan pola pikir yang diseragamkan oleh pihak penggerak pola pikir itu.

Kedua, berjalan di lapangan rumput adalah pola pikir yang berbeda. Karen hanya sebagian orang yang bersedia sepatunya kotor dan basah oleh rumput serta embun. Pola pikir ini melawan arus, tidak satu alur dan bebas. Tetapi pola pikir atau berjalan di atas rumput menyebakan rumput rusak, layu, kemudian mati. Nah, ini dianalogikan seperti pola pikir yang bebar menyebabkan si pemilik pola pikir dianggap merusak dan mematikan satu cara pandang. Nah, jika memilih berjalan di lapangan rumput kita akan bebas mau berjalan lurus, diagonal, secara vertikal maupun horizontal. Nilai tambah dari cara ini, kita jadi minioritas dan menonjol. Selain itu kita jadi pribadi yang bebas dan tidak terikat satu paham saja.

Yang menjadi ganjalan dan menimbulkan pertanyaan kenapa saat di kuliah yang dituntut luwes dan aktiv ini. Aku justru terkukung pada pola pikir yang bersifat terarah dan terstruktur. Rusaklah aku, generasiku, dan negeriku. Ampun. Aku ingin kembali ke masa SMA disebuah masa, ketika itu aku berpikir memancar, beda, dan luas. Aku butuh itu sebagai mahasiswa, sebagai agent of change.

Kembali ke kesendirianku, aku kini sudah sampai di perpustakaan. Akupun sudah tahu jawaban kenapa aku gelisah ketika sendiri. Karena saat sendiri pikiran gila menjamah otakku dan berbuntut pada pikiran linear yang kemudian kepalaku di penuhi mindmap tanpa terkontrol. Aku benci ini, aku tidak bisa menghentikannya. Sekalipun tidak, butuh suara tawa untuk menetralisir pikiranku dan aku butuh orang untuk mengimbangi pikiranku, agar tidak milikiku saja.

Akhirnya aku menemukan kak Nisa Irlanda ketika duduk di bangku meja belaja di depan tangga. Ia kemudian mengajakku pergi makan di laboratorium dasar (pengalaman pertama, sebenarnya kedua. Dulu aku belum tau nama kantin itu). Aku langsung aja. Ini nikmatnya sendiri, kalau aku bersama Rina atau Nite. Tentu harus melakukan mubes dulu, entah iya atau menolak ajakan.  Sekian ceritaku, intinya dengan sendiri kita bisa bebas menetukan sikap. Kala berjalanpun kita tidak perlu menyamai langkah dengan teman seperjalanan. Kita bebas menentukan kapan ingin berlari, kapan ingin berhenti, melompat, bahkan memutar arah.