Kamis, 15 Januari 2015

Tidur, bangun. Bangun, tidur.

Suatu pagi dengan hati yang masih tersayat-sayat
Aku bangun, tapi tak sepenuhnya bangun.
Hati dan otakku masih di sana
Alam mimpi yang berkepanjangan

Aku terbangun, tapi jiwaku entah di mana
Tersesat di alam kenangan
Agaknya ia masih kagok
Kenapa semuanya berubah

Aku tidur, tetapi hatiku tetap terjaga
Menunggu harap demi harap
Melihat mimpi yang berterbangan serambi menjulurkan lidahnya

Aku tidur, tetapi tidak terlelap
Hanya raga yang sedang memulihkan fungsinya
Hati dan jiwaku tetap kelelahan
Betapa ia terus menuntut untuk di berikan waktu untuk menyenangkan rohani nya
Aku tidak tuli
Ataupun bersikap egois
Aku kaku lumpuh
Hanya raga yang berlaga
Selebihnya mati suri

Aku tidur, tetapi rinduku terus menari
Kenangan itu gatal mencari penciptanya
Ah sering kali ia menerobos alam mimpiku
Tak dapatkah aku melepasnya
Untuk sebentar mungkin?

Aku bangun, tetapi tidak pernah bangun dari kenyataan
Bagaimana aku terus berharap
Itu semua tidak lebih dari mimpi buruk
Kalau begitu berapa lama aku tertidur
Bukankah semuanya terlalu panjang
Sementara aku sama sekali tidak pernah tidur

Aku tidur, tetapi terbangun
Aku bangun, tetapi tertidur

Barang kali semua ini
Ulah mulutku yang malas mengucap doa kepadanya
Tuhan, hamba khilaf

Senin, 12 Januari 2015

Jomblo: Sebuah Catatan Hati

Jomblo?

Itu makanan jenis apa? Pasti pait ya?

Jadi jomblo memang pahit begitu lah kira-kira. Sering kali para jomblo di anggap abnormal. Bayangkan bro, dianggap tidak normal? Nyesek nggak tuh?

Jari-jari kita pernah saling menggenggam
Berpaut berpagut dalam irama cinta
Melodi rindu pernah saling didendangkan
Memecah irama sunyi
Membungkam lagu sendu bersenandikakan lara jiwa
Berganti dengan irama merdu
Menuai kata rindu
Rindu kita pernah satu
Tidak mutlak tidak selalu
Akhirnya genggaman kita terlepas
Angin melepaskannya dari jemari
Agaknya gempa kecil itu tak bisa lagi membuat kita saling menguatkan
Kita terlalu rapuh
Langkah kita perlahan saling menjauh
Meninggalkan satu kata
Yang bernamakan kenangan
Untukmu yang tidak tertakdirkan untukku

Dari sebait rindu dan nyanyian jiwa diatas. Ah walau tak pantas bisa menggabarkan atau mencotohkan kalau para jomblo mungkin pernah merasakan cinta. Pada akhirnya cinta itu harus mereka lepas demi hati. Demi hati, hati yang bukan untuk disakiti. Jomblo berhak bahagia meski mereka tak bersama. Matahari dan bulan tetap bersinar meski mereka tak dipertemukan. Layaknya sepasang mata, kita menangis dan menatap bersama meski tak pernah saling tatap. Hey para jomblo. Hujan boleh saja menaungi wajahmu tetapi pelangi harus selalu menghiasi bola mata indahmu.

Jumat, 09 Januari 2015

Kepadamu

Kepadamu.
Aku bisu kataku kaku
Lidahku kelu
Bibirku getir
Aku diam bersuara
Berteriak bersama hawa dingin mulutku yang terkatup lama
Memanggil dengan tatap mata pilu
Harusnya kau mengerti
Bagaimana aku yang tak ingin kau pergi
Sudahlah
Aku membungkam mulutku yang gatal
Merintih menahan laju anginmu
Pergi pergilah.
Sudahi sudah
Lenyapkan lelah

Kepadamu orbit kebahagianku,aku kira kau matahari terus memberi cahaya untukku. Namun kau bulan yang sehabis indah segera menghilang.
Sudahi yang sudah sudah sayang

Senin, 05 Januari 2015

Fatamorgana

Sebatas punggungmu yang kini bebas ku pandangi. Tidak wajahmu apa lagi senyummu. Kau bukan milikku lagi dan memang tak pernah dimiliki.