Saya menghabiskan sebagian waktu remaja saya dengan becermin. Bukan karena narsis atau centil. Saya sibuk mencari-cari jawaban dari tanya orang-orang mengenai saya sakit apa. Setiap kali saya bertemu orang baru, saya selalu mendapat pertanyaan "Sedang sakit ya?"
Atau ditegur orang tidak dikenal ketika membeli sebotol minuman di warung, "Sakit ya, keliatan lesu"
Saya sering sekali mendapatkan komentar ini. Sesering orang bertanya kenapa nama saya cuma satu kata. Saya berhenti menghitungnya. Saat saya sadar, saya tidak akan mampu melakukannya.
Dalam cermin saya menemukan mata saya yang sayu. Hmm mungkin ini penyebab orang mengatakan saya sakit, pandangan sayu dan mata berkantung. Tapi kemudian saya menemukan teman saya yang juga memiliki mata sayu. Tapi tidak membuat saya berpikir dia sedang sakit.
Setelah sangsi dengan bentuk mata, saya kemudian menduga cara berjalan saya adalah penyebab komentar berdebah ini. Jalan saya lambat, gerak apalagi. Lagi-lagi saya menemukan orang yang sama lambatnya dengan saya, namun seperti di awal saya tidak punya cukup alasan untuk menduga dia sedang sakit.
Bingung? Dulu saya juga. Saya kemudian berpikir kebiasaan melamun membuat saya disangka sakit. Saya mudah terlena, sedang membuka tutup botol-skip, masuk ke ruangan-skip, membuka laptop-skip beberapa detik. Akan menulis asal muasaaal semuaaa innn-nah tuh kan skip lagi. Tapi tentu saja kita sepakat orang melamun tanda ada yang dipikirkan bukan karena sakit.
Lalu kemudian saya yakin warna kulit saya adalah penyebab utama. Kebetulan kulit saya putih, putih identik dengan pucat. Wajah orang sakit biasanya pucat, nah ini masuk akal.
Mungkin ini terdengar berdalih, tapi saya sering mendapati wajah saya memerah entah karena panas atau jerawat. Jika ada warna merah tentu tidak pucat kan? Nah ya ini.
Saya putus asa. Saya menyerah, jawaban ini tidak mungkin saya temukan. Lalu saya meminta Ibu untuk membelikan tablet tambah darah, karena iklan televisi. Dalam iklan, dikatakan lemah dan lesu adalah tanda sedang kekurangan zat besi. Dalam iklan juga penderita kemudian sangat bergairah dan gesit setelah meminum tablet ini.
Namun ibu saya tidak mau membelikan, sederhana saja mana mungkin anak subur dengan nafsu makan berlebih mengalami kekurangan zat besi.
Saya akhirnya diam-diam membeli tablet itu. Saya minum beberapa kali, hingga saya tidak sanggup membeli ulang pun pertanyaan itu tetap ada.
Pada akhirnya saya memilih untuk berhenti mencari tahu. Mengerutkan kening setiap kali mendapat komentar itu. Tidak menjawab adalah isyarat bahwa saya sehat-sehat saja. Dan saya tidak nyaman mendengar itu.
Saya kerap ketus kepada orang acak yang menanyakan ini. Karena saya pikir dia menyakiti saya dan tidak ada salahnya saya ketus pada mereka.
Lalu sikap ini juga ternyata menyakiti diri saya sendiri. Saya mudah sekali marah dan kehilangan minat jika mendapat komentar ini. Tentu ini tidak baik dalam kehidupan sosial saya. Tidak ada cara selain memaksakan menerima keadaan. Percaya ciptaan Tuhan tidak ada yang sia-sia.
Penerimaan ini kemudian menguntungkan saya. Ketika muak sekali mendengar teriakan senior saat ospek. Mungkin kalian pernah mendegar kalimat seperti ini, "Capek Kalian, Haa? Kami jauh lebih capek"
Saya memakai kesempatan ini untuk istirahat di ruang medis dengan cara mengangguk ketika ada panitia yang berkata, "Sakit ya?". Culas.
Belakangan saya sadari beberapa alasan yang saya temukan di masa remaja tersebut adalah kesatupaduan yang utuh dan saling terkait. Bisa jadi. Atau bisa saja saya salah, ada sebab lain yang belum saya temukan. Tapi bukan itu yang penting. Sekarang saya dapat memahami kenapa orang bertanya, "Kamu sakit ya?"
Karena tidak mungkin di pertemuan pertama orang akan bertanya, "Apakah kamu menduga bahwa di tahun 2020 dunia mengalami krisis karena Virus Corona?"
Tidak mungkin.
Tidak ada yang menduga bahwa ada wabah yang mematikan yang mengurung semua orang di rumah. Hingga kemudian punya waktu untuk menuliskan ini.