Minggu, 20 Desember 2015

Padi

Itu karena padi tak punya kesempatan untuk tumbuh tinggi!”



Apa yang istimewa dari padi selain filosofinya, Semakin merunduk semakin berisi itu?
Apa tempat istimewa padi selain bahan makanan pokok di Indonesia?

                Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala saya ketika tidak sengaja celetukkan seseorang “Bagaimana dengan filosofi padi” Saya diam saja waktu itu. Berusaha mencari ide lain, selain padi. Saya kurang setuju dengan ilmu padi yang digadang-gadangkan itu: Semakin berisi semakin merunduk itu. Semakin saya melarikan pikiran dari padi, semakin menari dan berputarlah ia dikepala saya. Penasaran, saya dan seorang teman langsung ke tempat di mana kita bisa menemukan padi.
                Saya menemukan padi di tengah sawah yang terbentang minioritas di tengah-tengah dominannya bangunan dan gedung. Saya perhatikan lekat-lekat padi dibasahi oleh air hujan itu, hujan gerimis kala itu. Tidak ada yang istimewa selain warna hijau yang menguning itu.  Rumpun-rumpun padi itu masih sama sewaktu saya pertama kali melihat padi, tidak ada yang berubah. Bentuk sawah dan pengolahannya masih juga sama. Hanya daerahnya lah yang menjadikan beda. Ada padi yang tubuh di daerah pegunungan, pesisir, ada padi yang ditumbuh di tanah berair, dan ada padi yang tumbuh di lading.
                Lalu apa yang istimewa dari padi. Ilmu Padi (Semakin berisi dan semakin merunduk) itu juga banyak dipatahkan.  Ada yang mengatakan bahwa jika memakai ilmu padi, seseorang yang “berisi” itu hanya berilmu sendiri dan tidak mau mengambil kesempatan untuk memberikan ilmunya kepada oang lain, karena tidak mau dicap sombong atau congkak. Ada juga yang meragukan: “Itu karena padi tak punya kesempatan untuk tumbuh tinggi!”
                Filosofi padi semakin berisi semakin merunduk saya abaika, itu tidak menrik inat saya. Saya masih di tepi sawah bersama teman saya. Kami mencermati

Kamis, 03 Desember 2015

Rerumpun Putri Malu

Cinta, oh sayang
duka, oh kita

Pada rerempun putri malu,

aku ingin menitipkan selembar kasih dengan sepucuk sirih
Sebutir rindu dengan sebilah pinang merah

bawa segenggam salamku, malu

kamu, oh duri

Edisi Marahan

Suatu Sore di lantai Tiga Perpus

Aden: Bosen nih, browsing apa lagi ya?
PC: game? facebook bla bla bla
Aden: ah males, nggak ada yang bagus juga
PC: Ngeblog deh
Aden: Oh iyaa, ide bagus. Ke blog yuk gel

Google:  Gue lupa naruh blog di bagian mana, pasti udah berbdebu tuh
Aden: Udah lama ya gue ga liat si blog
Google: abis lu pesbukan mulu siiih
Aden: ah pan bentar, liat time line doang. Lu cari blog gih
Google: gue lupa tarok di mana,
Aden: di lemari, di rak blogger kalii
Google; oh iya ke blogger ya

suuuuuuuuuurrrrrrt

Blogger: ah siapa sih ganggu aja, orang gua lagi tidur juga
Aden: Maap, yampun siblog udah drum minyak ajah tu badan lu. Lu tidur mulu sihh
Blogger: gue nggak berasa kenal elu deh kayaknya, pernah ketemu di mana?
Aden: Sengak bener nih anak, yakin lu gak kenal gua?
Blogger: Ya gak kenal, siapa sih ganggu aja. sana, gua mau tidur
Aden: lu kok gitu sama gua? Maaf gua sekarang sering sibuk nggak jelas. Sering anggurin lu, Maaf sebenarnya guaa sayang ama lu.
Blogger: GUA BILANG SANA


November alpa, hai bloooooooogku

Kamis, 15 Oktober 2015

Aku, sendiriku, dan pikiranku

Pertama aku menutup koran, lalu membuka novel Persidennya Wisran Hadi membaca paragraf pertama hingga tidak tahu kenapa bosan menyergap kepalaku, aku menutup novel itu. Kemudian aku merasa pusing, kepalaku berdenyut, perut kumelilit. Aku mual dan berkunang-kunang. Ini terjadi ketika aku sendiri di tempat ramai, baru baru ini mungkin aku mengidap phobia aneh.

Aku tengah duduk sendiri di perpustakaan fakultas. Tidak sepenuhnya sendiri, ada beberapa orang di perpustakaan. Tetapi, tidak ada yang aku kenal.

Aku menelungkupkan kepala diatas novel dan buku catatanku, seraya memuluk sipemeluk sepiku itu. Ada apa denganku, kenapa aku merasa sepi sekali? Kenapa aku pusing, takut, dan panik seperti ini? Apa yang terjadi?
Dulu, bahkan jauh sebelum kuliah atau saat semester pertama. Aku terbiasa sendiri, kemana-mana sendiri. Bukan masalah. Makan di kedai sendiripun, aku kalem saja. Namun, sekarang aku seperti tidak punya nyali berada seorang diri di tengah manusia yang tidak aku kenal.

Aku bangkit dari dudukku, kemudian mengantongi barang-barangku ke dalam tas. Aku ingin ke perpustakaan pusat, hendak mencari seseorang yang aku kenal. Akan ku suruh ia merampok sepiku, akan kuserahkan sunyiku padanya.

Ketika aku melangkah keluar dari perpustakaan, jawaban dari pertanyaan tadi muncul di kepalaku.
Ya. Aku tahu.
Aku seperti ini sejak aku terbiasa bersama, sejak terbiasa punya teman. Apalagi sejak ada Nite dan Rina yang selalu bersedia diajak ke mana saja.

Dari perpustakaan fib(fakultasku) menuju perpustakaan pusat adalah perjalanan panjang. Rutenya seperti ini FIB-Gedung E-Gedung F-Perpustakaan  pusat. Ini dilewati dengan jalan kaki cukup melelahkan, apalagi jika plengak plengok sendiri.

Aku berjalan di koridor-koridor gedung. Dulu, sewaktu SMA aku paling benci berjalan di koridor, selain karena gelap dan sempit, koridor juga dipenuhi siswa yang tengah menunggu guru. Aku lebih suka berjalan di lapangan rumput. Tidak ada halangan, tidak suara cekikan anak perempuan. Aku merasa di alam terbuka (Sekolahku dulu banyak tumbuh pohon besar. Namun, sewaktu aku mau tamat banyak yang ditebang, ada juga yang tumbang. Aku juga tidak tahu sekarang sudah ditanami lagi. Kalaupun iya, pasti belum serindang dulu)

Aku juga tidak tahu kenapa sekarang aku lebih suka berjalan di koridor. Entah karena rumputnya indah dan kampusku terkenal hijau, aku jadi takut merusak. Aku pun tidak tahu. Tulisan di larang menginjak rumput juga tidak ada, seandainya ada pasti aku akan lebih gencar menginjaknya. Aku paling suka melakukan sesuatu yang dilarang secara berlebihan seperti itu, seperti dilarang buang sampah, menjaga kebersihan yang kerap di tempel di berbagai tempat. Aku paling suka mengusili hal yang seperti ini. Apa karena tidak ada tulisan peringatan, aku jadi patuh. Aku juga ragu dengan diriku, pasti ada sesuatu yang dahsyat terjadi jika aku sampai patuh. Juga tidak mungkin karena aku takut sepatuku kotor, aku terlalu cuek untuk urusan penampilan. Jadi, kesimpulannya yang membuat aku menjadi patuh. Aku ini terlahir usil dan suka mengusili peraturan.

Aku analogikan koridor dan lapangan adalah cara berpikir. Cara berjalan di koridor atau lapangan adalah pola pikir. Berjalan di koridor sama dengan berpikir menurut pada alur yang disepakati, jika ada belokan maka berbelok lah jalan kita. Jika ada bundaran maka memutar lah kita, jika lurus ya berjalan lah ke depan atau boleh memilih ke belakang. Pola pikir yang di koridor adalah pola pikir yang di tata, di atur dan pola pikir yang diseragamkan oleh pihak penggerak pola pikir itu.

Kedua, berjalan di lapangan rumput adalah pola pikir yang berbeda. Karen hanya sebagian orang yang bersedia sepatunya kotor dan basah oleh rumput serta embun. Pola pikir ini melawan arus, tidak satu alur dan bebas. Tetapi pola pikir atau berjalan di atas rumput menyebakan rumput rusak, layu, kemudian mati. Nah, ini dianalogikan seperti pola pikir yang bebar menyebabkan si pemilik pola pikir dianggap merusak dan mematikan satu cara pandang. Nah, jika memilih berjalan di lapangan rumput kita akan bebas mau berjalan lurus, diagonal, secara vertikal maupun horizontal. Nilai tambah dari cara ini, kita jadi minioritas dan menonjol. Selain itu kita jadi pribadi yang bebas dan tidak terikat satu paham saja.

Yang menjadi ganjalan dan menimbulkan pertanyaan kenapa saat di kuliah yang dituntut luwes dan aktiv ini. Aku justru terkukung pada pola pikir yang bersifat terarah dan terstruktur. Rusaklah aku, generasiku, dan negeriku. Ampun. Aku ingin kembali ke masa SMA disebuah masa, ketika itu aku berpikir memancar, beda, dan luas. Aku butuh itu sebagai mahasiswa, sebagai agent of change.

Kembali ke kesendirianku, aku kini sudah sampai di perpustakaan. Akupun sudah tahu jawaban kenapa aku gelisah ketika sendiri. Karena saat sendiri pikiran gila menjamah otakku dan berbuntut pada pikiran linear yang kemudian kepalaku di penuhi mindmap tanpa terkontrol. Aku benci ini, aku tidak bisa menghentikannya. Sekalipun tidak, butuh suara tawa untuk menetralisir pikiranku dan aku butuh orang untuk mengimbangi pikiranku, agar tidak milikiku saja.

Akhirnya aku menemukan kak Nisa Irlanda ketika duduk di bangku meja belaja di depan tangga. Ia kemudian mengajakku pergi makan di laboratorium dasar (pengalaman pertama, sebenarnya kedua. Dulu aku belum tau nama kantin itu). Aku langsung aja. Ini nikmatnya sendiri, kalau aku bersama Rina atau Nite. Tentu harus melakukan mubes dulu, entah iya atau menolak ajakan.  Sekian ceritaku, intinya dengan sendiri kita bisa bebas menetukan sikap. Kala berjalanpun kita tidak perlu menyamai langkah dengan teman seperjalanan. Kita bebas menentukan kapan ingin berlari, kapan ingin berhenti, melompat, bahkan memutar arah.

Rabu, 07 Oktober 2015

Masa elsa udah bisa dandan, aku pake bedak aja ga keliatan??

Barusan aku ke rumah Elsa teman tk,  sd, smp, teman TPA, dan teman satu latiha karate denganku. Rumahku dan rumahnya hanya berjarak 2 KM. Ini adalah kesempatan langka bertemu dengannya. Biasanya ketika aku bertandang, ia belum pulang. Begitu kata mamanya, ketika menyambutku kemudian menemaniku menunggu elsa-yang kata sebentar lagi akan pulang. Selalu seperti itu  dan selalu aku menunggu tanpa hasil.
"Terus saja kau melangkah, terus saja
kau melupakan jejak langkahmu.
Terus saja kau lupakan aku" Sindirnya
ketika aku duduk di ranjangnya
melepas rindu yang menjadi-jadi.
"Aku di sini saja kok, tidak
melupakan. Hanya berupaya
menyibukkan diri dalam secangkir
cerpen dan puisi" Kilahku seraya
membuka almarinya, tanganku gatal
dan naluri ingin tahuku ikut terbawa ke
rumahnya.
"Astaga" aku terperanjat. ku jumpai
eyeliner, pejepit bulu mata,
eyesadhow, blush on, mascara, dan
lipstik aneka warna. Aku terperanjat,
apa yang terjadi pada teman sama
cuek dengan ku ini. Perlahan aku coba
alat-alat perias wajah itu satu persatu.
"ini sejak dewasa, haha kita udah
besarnya" aku ternganga sambil
mengusapkan eyeliner pada kelopak
mataku. Karena kekagetanku eyeliner
itu tercoret panjang dimataku. dalam
hati aku mengulang perkataannya. Kita
memang sudah dewasa.
keserampanganku masih di sini, lekat
denganku. Apa boleh buat.

Jumat, 14 Agustus 2015

Aku tidak sendiri (tidak)

Aku sendiri di sini
Bersama derap langkah yang menjauh dan mendekat
Aku sendiri di sini
Bersama bayang
yang menghitam dan memutih

Tidak
Aku tidak sendiri
Ada bayang, ada derap langkah
Aku tidak sendiri
Ada sepi ada mati

Jumat, 26 Juni 2015

Ketika Dunia Menjadi Kira-kira

"ija, bagaimana kalau anak yang lahir luar nikah itu nanya sama mama, mama pacaran dulu seperti apa?"

"Haha, iya juga. hahaha. Gimana ya?"

Malam itu ija terkontaminasi keanehanku, aku tergelitik lalu menceletuk setelah terdengar kabar-kabar lagi-lagi tentang "kecelakaan" itu.
Ija atau pun semua orang terdekatku pernah mengatakan jangan terlalu sibuk memikirkan hal dan masalah oang lain. Kurang kerjaan, kepo, dan pemikir akut agaknya masih kurang untuk mendefinisikan "keanehan" yang aku idap, ini telah lama. Mungkin sejak aku tahu cara berpikir.

bukan aku sok mengurusi orang lain, tapi pikiran tadi malam ini mengusik-ngusik dan mencongkel-congkel belahan otakku. Kira-kira (menurutku) ini yang bakal ditanyain si anak

Mah, aku lahirnya kapan?

Mamah nikahnya tahun kapan?

Kok selisihnya 5 bulan sama kelahiranku?

Mah, aku anak hebat ya? Buk guru bilang manusia bisa melahirkan setelah 9 bulan 10 hari mengandung?

aku prematur dong, mah? kok aku bisa hidup ya mah, di tivi bayi prematur bisa meninggal!

berarti Tuhan sayang aku dong mah?

Oh iya mah, mamah kok bisa kenal sama papa?

Mama pacaran dulunya sama papa?

Pacaran itu apa dan ngapain aja mah?

Kira-kira begitu pertanyaan si anak, anggap saja si anak ini terlahir dengan kekritisan yang luar biasa. Dan kira-kira apa jawaban si orang tua. Kira-kiranya lagi apakah orang tua itu akan menutupi dan lingkungan pun kompak menutupi. Lalu apa yang terjadi dengan generasi selanjutnya. Akankah menjadi generasi yang ditupi dan menutupi.

Bagaimana kalau perkiraannya, si orang tua akan menjawab jujur dan bagaimana perasaaan si anak, apa yang ia lakukan. Kira-kira apakah anak tersebut akan meniru dan meneruskan apa yang ia dengar, terima, dan ia hadapi. Bagaimana kira-kira dunia ini berikutnya, apakah adab, malu, sopan, hormat, dan adat tidak punya tempat lagi pada diri manusia?

Senin, 11 Mei 2015

Menjerit rindu

Haruskah aku mati karena rasaku
Hatiku yang tak jemu memanggil namamu
Aku tenggelam dalam sedih yang tak terbatas
Jauh di lubuk kolam anganku
Nadaku menjerit rindu

Kamis, 07 Mei 2015

Sepotong kisah

"Aku boleh bilang sesuatu, nggak? Tetapi jangan marah, ya?"

"Iya, bilang aja. Apa emang?"

"Kalau menurut aku kamu lebih baik cari yang baru, buat apa berjuang sendiri?"

Aku menatap nanar, ada kaget tercampur sadar

"Emang iya, kalau cinta harus diperjuangkan. Tapi, kalau kamu saja yang berjuang, dianya menjauh dan seakan tidak peduli buat apa? Tidak akan pernah punya titik temu,"

Aku tercekat, menelan ludah dan pahit

"Aku sarankan lebih baik memulai yang baru"



"Nggak ada yang nggak bisa, Za, Kamu saja yang membuat mindset begitu,Bukan kah kamu yang selalu bilang, pikiran selalu menggerakkan raga kita?"

"Kali ini lain, Ri. Kasusnya beda"

Risa berjalan ke luar, meninggalkan aku yang termenung pilu di kamar kosku yang mendadak dingin dan membuatku membeku. Aku selalu dingin, agaknya rindu seperti tanah tertimbun salju dan harus menuntaskannya dengan sinar mentari. 

Sabtu, 21 Maret 2015

Efek jomblo

1. Suka lupa naruh hp dan bawa hp. Hp terselip entah di mana
2. Sering berimigrasi ke kos  atau asrama teman sesama tuna asmara
3. Suka syirik sama  teman yang punya pacar
4. Suka bikin status galau, nggak jauh dari si manta
5. Suka nyibukin diri dari hal yang bermanfaat seperti organisasi sampai nongkrong ga jelas
6. Suka lupa waktu lupa tanggal dan lupa makan, karena keasyikan berkelana
7. Nunggu waktu yang pas buat bilang "Selamat malam mantan, kamu menyesalkan sekarang?" Ala dodit

Kamis, 12 Maret 2015

Berhujan Berdua

Aku intip hujan dari jendela kaca yang berembum karenanya
Ku tahan niat untuk memghambur memeluk kawanan hujan
Aku takut dingin
Aku mungkin saja mengingil tanpa rengkuhan tanganmu
Ah. Aku rindu berhujan berdua

Selasa, 10 Maret 2015

Tidur Lebih Baik

Warna berleha leha di kepalaku
Agaknya ia memjemputku dari.keabuabuan ini
Aku hanya menatap lalu berdecak "fatamorgana"
Ia keukeh di sana. Menari nari bermaksud menggoda
Aku mencibur lalu menarik selimut menutupi mata yang tak jemu menatapi ilusi "tidur lebih baik'' putusku

Sabtu, 14 Februari 2015

Bias Cahaya

Berbait pedih pernah menghentak puing
Irama rindu siapa bisa menebak
Kala hati bukan lagi tempat terindah
Kemelut warna pernah saling adu mulut
Melempar utas demi utas
Segelintir rasa pernah saling bisik tentang rapuh yang meluruh
Kopi hitam merombak warna sempat bermimpi ia bercahaya
Tapi bias hanya lah sisa cahaya sang agung yang di titipkan
Dijaga dengan sangat begitu pesannya

Kamis, 15 Januari 2015

Tidur, bangun. Bangun, tidur.

Suatu pagi dengan hati yang masih tersayat-sayat
Aku bangun, tapi tak sepenuhnya bangun.
Hati dan otakku masih di sana
Alam mimpi yang berkepanjangan

Aku terbangun, tapi jiwaku entah di mana
Tersesat di alam kenangan
Agaknya ia masih kagok
Kenapa semuanya berubah

Aku tidur, tetapi hatiku tetap terjaga
Menunggu harap demi harap
Melihat mimpi yang berterbangan serambi menjulurkan lidahnya

Aku tidur, tetapi tidak terlelap
Hanya raga yang sedang memulihkan fungsinya
Hati dan jiwaku tetap kelelahan
Betapa ia terus menuntut untuk di berikan waktu untuk menyenangkan rohani nya
Aku tidak tuli
Ataupun bersikap egois
Aku kaku lumpuh
Hanya raga yang berlaga
Selebihnya mati suri

Aku tidur, tetapi rinduku terus menari
Kenangan itu gatal mencari penciptanya
Ah sering kali ia menerobos alam mimpiku
Tak dapatkah aku melepasnya
Untuk sebentar mungkin?

Aku bangun, tetapi tidak pernah bangun dari kenyataan
Bagaimana aku terus berharap
Itu semua tidak lebih dari mimpi buruk
Kalau begitu berapa lama aku tertidur
Bukankah semuanya terlalu panjang
Sementara aku sama sekali tidak pernah tidur

Aku tidur, tetapi terbangun
Aku bangun, tetapi tertidur

Barang kali semua ini
Ulah mulutku yang malas mengucap doa kepadanya
Tuhan, hamba khilaf

Senin, 12 Januari 2015

Jomblo: Sebuah Catatan Hati

Jomblo?

Itu makanan jenis apa? Pasti pait ya?

Jadi jomblo memang pahit begitu lah kira-kira. Sering kali para jomblo di anggap abnormal. Bayangkan bro, dianggap tidak normal? Nyesek nggak tuh?

Jari-jari kita pernah saling menggenggam
Berpaut berpagut dalam irama cinta
Melodi rindu pernah saling didendangkan
Memecah irama sunyi
Membungkam lagu sendu bersenandikakan lara jiwa
Berganti dengan irama merdu
Menuai kata rindu
Rindu kita pernah satu
Tidak mutlak tidak selalu
Akhirnya genggaman kita terlepas
Angin melepaskannya dari jemari
Agaknya gempa kecil itu tak bisa lagi membuat kita saling menguatkan
Kita terlalu rapuh
Langkah kita perlahan saling menjauh
Meninggalkan satu kata
Yang bernamakan kenangan
Untukmu yang tidak tertakdirkan untukku

Dari sebait rindu dan nyanyian jiwa diatas. Ah walau tak pantas bisa menggabarkan atau mencotohkan kalau para jomblo mungkin pernah merasakan cinta. Pada akhirnya cinta itu harus mereka lepas demi hati. Demi hati, hati yang bukan untuk disakiti. Jomblo berhak bahagia meski mereka tak bersama. Matahari dan bulan tetap bersinar meski mereka tak dipertemukan. Layaknya sepasang mata, kita menangis dan menatap bersama meski tak pernah saling tatap. Hey para jomblo. Hujan boleh saja menaungi wajahmu tetapi pelangi harus selalu menghiasi bola mata indahmu.

Jumat, 09 Januari 2015

Kepadamu

Kepadamu.
Aku bisu kataku kaku
Lidahku kelu
Bibirku getir
Aku diam bersuara
Berteriak bersama hawa dingin mulutku yang terkatup lama
Memanggil dengan tatap mata pilu
Harusnya kau mengerti
Bagaimana aku yang tak ingin kau pergi
Sudahlah
Aku membungkam mulutku yang gatal
Merintih menahan laju anginmu
Pergi pergilah.
Sudahi sudah
Lenyapkan lelah

Kepadamu orbit kebahagianku,aku kira kau matahari terus memberi cahaya untukku. Namun kau bulan yang sehabis indah segera menghilang.
Sudahi yang sudah sudah sayang

Senin, 05 Januari 2015

Fatamorgana

Sebatas punggungmu yang kini bebas ku pandangi. Tidak wajahmu apa lagi senyummu. Kau bukan milikku lagi dan memang tak pernah dimiliki.