Sejak kuliah gue jadi akrab dengan sebutan yang namanya kupu-kupu.
''...jadi mahasiswa jangan kupu-kupu''
Begitu kata senior gue disebuah pertemuan. Mendadak kata-kata ini jadi akrab di hati dan pikiran gue, bagaimana tidak. Toh. Setiap hari kata-kata itu didengungkan. Dan setiap hari juga gue jadi kupu-kupu. Kuliah-pulang-kuliah-pulang.
Sebenarnya gue kurang sreg dan kurang seneng dengan ditemukannya singkatan ini. Mereka bilang keren sebutan kupu-kupu, kura-kura dan kunang-kunang secara ini kan percobaan untuk memiskinkan bahasa. Bagaimana bangsa ini mau maju kalau alat pemersatu bangsa saja dimiskinkan.
Cie, gue udah bisa ngomong gede haha
Tidak hanya yang di atas saja yang di singkat. Banyak di sekitar yang menggunakan singkatan.
Teman: ntar sore jogging ke jablay yuk.
kamu : apaan tuh jablay? Jarang dibelai ya?
Teman : bukan jambatan layang. (Baca; jembatan layang atau fly over)
Jadi salah gaul kan. Tanpa kita sadari singkatan juga berakibat fatal.
Kamu: Nanti sore ketemu di pasbar ya?
Teman: oke. Nanti sorean deh di kabarin *ala cinta di AADC*
Pas sorean. Di telpon.
Temen: kamu di mana aku udah di pasaman barat.
Kamu: pasaman barat? *bingung*
Temen: iya kan janjian di pasbar.
Kamu: bukan pasbarnya pasaman barat tapi pasar baru unand. *pingsan*
Fatal bukan? Singkatan tidak hanya memiskinkan bahasa tetapi, juga menimbulkan salah paham. Untuk antisipasi terjadinya salah paham mari gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena bahasa Indonesia alat pemersatu bangsa. Oke!! Stop alay.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar