Jumat, 26 Juni 2015

Ketika Dunia Menjadi Kira-kira

"ija, bagaimana kalau anak yang lahir luar nikah itu nanya sama mama, mama pacaran dulu seperti apa?"

"Haha, iya juga. hahaha. Gimana ya?"

Malam itu ija terkontaminasi keanehanku, aku tergelitik lalu menceletuk setelah terdengar kabar-kabar lagi-lagi tentang "kecelakaan" itu.
Ija atau pun semua orang terdekatku pernah mengatakan jangan terlalu sibuk memikirkan hal dan masalah oang lain. Kurang kerjaan, kepo, dan pemikir akut agaknya masih kurang untuk mendefinisikan "keanehan" yang aku idap, ini telah lama. Mungkin sejak aku tahu cara berpikir.

bukan aku sok mengurusi orang lain, tapi pikiran tadi malam ini mengusik-ngusik dan mencongkel-congkel belahan otakku. Kira-kira (menurutku) ini yang bakal ditanyain si anak

Mah, aku lahirnya kapan?

Mamah nikahnya tahun kapan?

Kok selisihnya 5 bulan sama kelahiranku?

Mah, aku anak hebat ya? Buk guru bilang manusia bisa melahirkan setelah 9 bulan 10 hari mengandung?

aku prematur dong, mah? kok aku bisa hidup ya mah, di tivi bayi prematur bisa meninggal!

berarti Tuhan sayang aku dong mah?

Oh iya mah, mamah kok bisa kenal sama papa?

Mama pacaran dulunya sama papa?

Pacaran itu apa dan ngapain aja mah?

Kira-kira begitu pertanyaan si anak, anggap saja si anak ini terlahir dengan kekritisan yang luar biasa. Dan kira-kira apa jawaban si orang tua. Kira-kiranya lagi apakah orang tua itu akan menutupi dan lingkungan pun kompak menutupi. Lalu apa yang terjadi dengan generasi selanjutnya. Akankah menjadi generasi yang ditupi dan menutupi.

Bagaimana kalau perkiraannya, si orang tua akan menjawab jujur dan bagaimana perasaaan si anak, apa yang ia lakukan. Kira-kira apakah anak tersebut akan meniru dan meneruskan apa yang ia dengar, terima, dan ia hadapi. Bagaimana kira-kira dunia ini berikutnya, apakah adab, malu, sopan, hormat, dan adat tidak punya tempat lagi pada diri manusia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar