Apa yang istimewa dari padi
selain filosofinya, Semakin merunduk semakin berisi itu?
Apa tempat istimewa padi selain
bahan makanan pokok di Indonesia?
Pertanyaan-pertanyaan
itu muncul di kepala saya ketika tidak sengaja celetukkan seseorang “Bagaimana
dengan filosofi padi” Saya diam saja waktu itu. Berusaha mencari ide lain,
selain padi. Saya kurang setuju dengan ilmu padi yang digadang-gadangkan itu:
Semakin berisi semakin merunduk itu. Semakin saya melarikan pikiran dari padi,
semakin menari dan berputarlah ia dikepala saya. Penasaran, saya dan seorang
teman langsung ke tempat di mana kita bisa menemukan padi.
Saya
menemukan padi di tengah sawah yang terbentang minioritas di tengah-tengah
dominannya bangunan dan gedung. Saya perhatikan lekat-lekat padi dibasahi oleh
air hujan itu, hujan gerimis kala itu. Tidak ada yang istimewa selain warna
hijau yang menguning itu. Rumpun-rumpun
padi itu masih sama sewaktu saya pertama kali melihat padi, tidak ada yang
berubah. Bentuk sawah dan pengolahannya masih juga sama. Hanya daerahnya lah
yang menjadikan beda. Ada padi yang tubuh di daerah pegunungan, pesisir, ada
padi yang ditumbuh di tanah berair, dan ada padi yang tumbuh di lading.
Lalu
apa yang istimewa dari padi. Ilmu Padi (Semakin berisi dan semakin merunduk)
itu juga banyak dipatahkan. Ada yang
mengatakan bahwa jika memakai ilmu padi, seseorang yang “berisi” itu hanya
berilmu sendiri dan tidak mau mengambil kesempatan untuk memberikan ilmunya
kepada oang lain, karena tidak mau dicap sombong atau congkak. Ada juga yang
meragukan: “Itu karena padi tak punya kesempatan untuk tumbuh tinggi!”
Filosofi
padi semakin berisi semakin merunduk saya abaika, itu tidak menrik inat saya.
Saya masih di tepi sawah bersama teman saya. Kami mencermati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar