Pertama aku menutup koran, lalu membuka novel Persidennya Wisran Hadi membaca paragraf pertama hingga tidak tahu kenapa bosan menyergap kepalaku, aku menutup novel itu. Kemudian aku merasa pusing, kepalaku berdenyut, perut kumelilit. Aku mual dan berkunang-kunang. Ini terjadi ketika aku sendiri di tempat ramai, baru baru ini mungkin aku mengidap phobia aneh.
Aku tengah duduk sendiri di perpustakaan fakultas. Tidak sepenuhnya sendiri, ada beberapa orang di perpustakaan. Tetapi, tidak ada yang aku kenal.
Aku menelungkupkan kepala diatas novel dan buku catatanku, seraya memuluk sipemeluk sepiku itu. Ada apa denganku, kenapa aku merasa sepi sekali? Kenapa aku pusing, takut, dan panik seperti ini? Apa yang terjadi?
Dulu, bahkan jauh sebelum kuliah atau saat semester pertama. Aku terbiasa sendiri, kemana-mana sendiri. Bukan masalah. Makan di kedai sendiripun, aku kalem saja. Namun, sekarang aku seperti tidak punya nyali berada seorang diri di tengah manusia yang tidak aku kenal.
Aku bangkit dari dudukku, kemudian mengantongi barang-barangku ke dalam tas. Aku ingin ke perpustakaan pusat, hendak mencari seseorang yang aku kenal. Akan ku suruh ia merampok sepiku, akan kuserahkan sunyiku padanya.
Ketika aku melangkah keluar dari perpustakaan, jawaban dari pertanyaan tadi muncul di kepalaku.
Ya. Aku tahu.
Aku seperti ini sejak aku terbiasa bersama, sejak terbiasa punya teman. Apalagi sejak ada Nite dan Rina yang selalu bersedia diajak ke mana saja.
Dari perpustakaan fib(fakultasku) menuju perpustakaan pusat adalah perjalanan panjang. Rutenya seperti ini FIB-Gedung E-Gedung F-Perpustakaan pusat. Ini dilewati dengan jalan kaki cukup melelahkan, apalagi jika plengak plengok sendiri.
Aku berjalan di koridor-koridor gedung. Dulu, sewaktu SMA aku paling benci berjalan di koridor, selain karena gelap dan sempit, koridor juga dipenuhi siswa yang tengah menunggu guru. Aku lebih suka berjalan di lapangan rumput. Tidak ada halangan, tidak suara cekikan anak perempuan. Aku merasa di alam terbuka (Sekolahku dulu banyak tumbuh pohon besar. Namun, sewaktu aku mau tamat banyak yang ditebang, ada juga yang tumbang. Aku juga tidak tahu sekarang sudah ditanami lagi. Kalaupun iya, pasti belum serindang dulu)
Aku juga tidak tahu kenapa sekarang aku lebih suka berjalan di koridor. Entah karena rumputnya indah dan kampusku terkenal hijau, aku jadi takut merusak. Aku pun tidak tahu. Tulisan di larang menginjak rumput juga tidak ada, seandainya ada pasti aku akan lebih gencar menginjaknya. Aku paling suka melakukan sesuatu yang dilarang secara berlebihan seperti itu, seperti dilarang buang sampah, menjaga kebersihan yang kerap di tempel di berbagai tempat. Aku paling suka mengusili hal yang seperti ini. Apa karena tidak ada tulisan peringatan, aku jadi patuh. Aku juga ragu dengan diriku, pasti ada sesuatu yang dahsyat terjadi jika aku sampai patuh. Juga tidak mungkin karena aku takut sepatuku kotor, aku terlalu cuek untuk urusan penampilan. Jadi, kesimpulannya yang membuat aku menjadi patuh. Aku ini terlahir usil dan suka mengusili peraturan.
Aku analogikan koridor dan lapangan adalah cara berpikir. Cara berjalan di koridor atau lapangan adalah pola pikir. Berjalan di koridor sama dengan berpikir menurut pada alur yang disepakati, jika ada belokan maka berbelok lah jalan kita. Jika ada bundaran maka memutar lah kita, jika lurus ya berjalan lah ke depan atau boleh memilih ke belakang. Pola pikir yang di koridor adalah pola pikir yang di tata, di atur dan pola pikir yang diseragamkan oleh pihak penggerak pola pikir itu.
Kedua, berjalan di lapangan rumput adalah pola pikir yang berbeda. Karen hanya sebagian orang yang bersedia sepatunya kotor dan basah oleh rumput serta embun. Pola pikir ini melawan arus, tidak satu alur dan bebas. Tetapi pola pikir atau berjalan di atas rumput menyebakan rumput rusak, layu, kemudian mati. Nah, ini dianalogikan seperti pola pikir yang bebar menyebabkan si pemilik pola pikir dianggap merusak dan mematikan satu cara pandang. Nah, jika memilih berjalan di lapangan rumput kita akan bebas mau berjalan lurus, diagonal, secara vertikal maupun horizontal. Nilai tambah dari cara ini, kita jadi minioritas dan menonjol. Selain itu kita jadi pribadi yang bebas dan tidak terikat satu paham saja.
Yang menjadi ganjalan dan menimbulkan pertanyaan kenapa saat di kuliah yang dituntut luwes dan aktiv ini. Aku justru terkukung pada pola pikir yang bersifat terarah dan terstruktur. Rusaklah aku, generasiku, dan negeriku. Ampun. Aku ingin kembali ke masa SMA disebuah masa, ketika itu aku berpikir memancar, beda, dan luas. Aku butuh itu sebagai mahasiswa, sebagai agent of change.
Kembali ke kesendirianku, aku kini sudah sampai di perpustakaan. Akupun sudah tahu jawaban kenapa aku gelisah ketika sendiri. Karena saat sendiri pikiran gila menjamah otakku dan berbuntut pada pikiran linear yang kemudian kepalaku di penuhi mindmap tanpa terkontrol. Aku benci ini, aku tidak bisa menghentikannya. Sekalipun tidak, butuh suara tawa untuk menetralisir pikiranku dan aku butuh orang untuk mengimbangi pikiranku, agar tidak milikiku saja.
Akhirnya aku menemukan kak Nisa Irlanda ketika duduk di bangku meja belaja di depan tangga. Ia kemudian mengajakku pergi makan di laboratorium dasar (pengalaman pertama, sebenarnya kedua. Dulu aku belum tau nama kantin itu). Aku langsung aja. Ini nikmatnya sendiri, kalau aku bersama Rina atau Nite. Tentu harus melakukan mubes dulu, entah iya atau menolak ajakan. Sekian ceritaku, intinya dengan sendiri kita bisa bebas menetukan sikap. Kala berjalanpun kita tidak perlu menyamai langkah dengan teman seperjalanan. Kita bebas menentukan kapan ingin berlari, kapan ingin berhenti, melompat, bahkan memutar arah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar